Malam itu terasa begitu panjang. Jam dinding berdetak pelan dan waktu terasa lambat, setiap detiknya seolah menusuk hingga kedalam telinga. Rangga duduk di sudut kamar, memandangi layar ponsel yang penuh notifikasi. Ada pesan pekerjaan yang tak sempat ia balas, tagihan yang menumpuk, hingga percakapan dari orang-orang terdekat yang kini tak sanggup ia jawab.
Ia menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang dapat
cepat berlalu. Namun saat kembali membuka mata, kenyataan masih sama: karier
yang ia bangun bertahun-tahun hilang dalam sekejap. Perusahaan tempatnya
bekerja melakukan pemangkasan besar-besaran, dan namanya termasuk dalam daftar.
Kehilangan pekerjaan hanyalah awal. Perlahan, kehidupannya
ikut goyah. Cicilan rumah, kebutuhan keluarga, dan rasa percaya diri yang dulu
begitu kuat kini runtuh satu per satu. Dalam sebulan terakhir, Rangga hidup
seakan tanpa arah.
“Apa gunanya aku berusaha sejauh ini, kalau akhirnya seperti
ini?” gumamnya lirih.
Di luar kamar, hujan turun deras. Suara rintiknya bercampur
dengan sesak di dada, seolah alam ikut menangisi keterpurukan yang ia alami. Rangga
memeluk lututnya, mencoba menahan getaran tubuh yang penuh rasa putus asa.
Mungkin inilah yang disebut titik terendah. Saat semua yang
dibangun runtuh, saat langkah terasa berat, bahkan saat keyakinan pada diri
sendiri ikut sirna.
Namun di balik hening itu, ada satu bisikan kecil dalam
hatinya. Sebuah pertanyaan yang samar tapi tak mau hilang:
“Apakah benar ini akhir? Atau mungkin ini justru awal
dari sesuatu yang baru?”
Pertanyaan itu belum mampu mengusir gelapnya malam. Tapi
entah kenapa, ia menyisakan secercah rasa penasaran. Dan terkadang, rasa
penasaran kecil itu bisa menjadi alasan seseorang untuk tetap bertahan.

Komentar
Posting Komentar